Tentang Wakaf 1


Wakaf. Kata itu tentu sudah akrab dan dikenal umat Islam. Secara harfiah, wakaf bermakna pembatasan atau larangan. Menurut Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, wakaf adalah menahan suatu benda yang kekal zatnya, dapat diambil manfaatnya, dan dipergunakan pada jalan kebaikan.

Wakaf merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, Allah SWT.

Mewakafkan harta, baik berupa tanah, bangunan, maupun uang tak sama dengan berderma atau sedekah biasa.

Ibadah yang satu ini terbilang unik. Menurut para ulama, pahala dan manfaat wakaf bisa lebih besar bagi diri orang yang mewakafkan hartanya karena pahalanya mengalir secara terus-menerus selama harta yang diwakafkan itu masih bermanfaat dan dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Ibadah wakaf hukumnya sunah berpahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi yang tidak melakukannya. Di antara ayat-ayat Alquran yang mendasari ibadah wakaf adalah Surah Ali Imran [3] ayat 92, “Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

Lalu sejak kapan ibadah wakaf itu dimulai? John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern menyebutkan, ide wakaf sama tuanya dengan usia manusia.

Para ahli hukum Islam, menurut Esposito, menyatakan bahwa wakaf yang pertama adalah bangunan suci Ka’bah di Makkah—yang dalam Surah Ali Imran [3] ayat 96 sebagai rumah ibadah pertama yang dibangun oleh umat manusia.

Menurut Esposito, dalam praktiknya, ide wakaf telah dikenal pada masa sebelum datangnya Islam. Selama beberapa abad, kuil, gereja, dan bentuk bangunan lainnya didirikan dan diperuntukkan sebagai tempat ibadah.

Lebih dari itu, para penguasa Mesir Kuno menetapkan tanah untuk dimanfaatkan para rahib, sedangkan orang-orang Yunani dan Romawi Kuno menyumbangkan harta benda mereka untuk perpustakaan dan pendidikan.

Tiga macam wakaf

Dalam Islam, menurut Esposito, dikenal adanya tiga macam wakaf, yakni wakaf keagamaan, wakaf derma (filantropis), dan wakaf keluarga.

Sejarah mencatat, wakaf keagamaan pertama adalah Masjid Quba di Madinah. Masjid itu dibangun pada saat kedatangan kaum Muhajirin bersama Nabi Muhammad SAW pada 622 M.

“Hingga kini, masjid tersebut masih berada di tempat yang sama dengan bangunan yang diperbarui dan diperluas,” ujar Esposito.

Selang enam bulan setelah membangun Masjid Quba, di pusat Kota Madinah juga dibangun Masjid Nabawi. Masjid serta tanah dan bangunan yang secara eksklusif menyediakan penghasilan untuk pemeliharaan dan pendanaan masjid, termasuk ke dalam kategori wakaf keagamaan.

Bentuk wakaf kedua, kata Esposito, adalah wakaf derma (filantropis). Wakaf filantropis itu juga sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Seseorang bernama Mukhairiq berkehendak mendermakan (mewakafkan) tujuh bidang kebun buah-buahan miliknya yang ada di Madinah setelah dia meninggal kepada Nabi SAW.

Pada 626 M, Mukhairiq meninggal dunia. Lalu, Nabi SAW mengambil alih kepemilikan tujuh bidang kebun tersebut dan menetapkannya sebagai wakaf derma untuk diambil manfaatnya bagi fakir miskin. Praktik itu diikuti oleh para sahabat Nabi SAW dan Khalifah Umar bin Khattab.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki sebidang tanah di Khaibar, yang aku belum pernah memiliki tanah sebaik itu. Apa nasihat engkau kepadaku?”

Rasulullah SAW menjawab, “Jika engkau mau, wakafkanlah tanah itu, sedekahkanlah hasilnya.”

Lalu, Umar mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar (di sekitar Kota Madinah) itu dengan pengertian tidak boleh dijual, dihibahkan, atau diwariskan. Menjelang Nabi wafat pada 632 M banyak wakaf derma telah dibuat.

diambil dari : http://www.mualaf.com/index.php/zakat-infaq-shodaqoh/item/890-melacak-asal-usul-wakaf-1


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

One thought on “Tentang Wakaf

  • mohamad dwiyanto

    Saya berniat mewakafkan rumah yg sekarang masih saya tempati untuk dijadikan madrasah,panti yatim,dan mushola, saya mewakafkan atas nama anak saya yang baru saja meninggal, tetapi rumah dan tanah tersebut adalah warisan dari orangtua/kakek anak saya hukumnya bagaimana? caranya gimana?