#Renungan Pendidikan Berbasis Fitrah (Part 1)


Ayah Bunda Sekolah Alam Duri, kali ini kami ingin mengajak untuk sejenak membaca akan sebuah renungan pendidikan yang pernah ditulis oleh Ustadz. Harry santosa ( Parktisi Pendidikan Islam). semoga ini menjadi bahan renungan akan pendidikan yang kita ketahui selama ini, serta menjadikan kita lebih baik lagi.

diagram-pendidikan-berbasis-fitrah#Renungan Pendidikan 1

Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yang paling kenal potensi keunikan anak-anaknya. Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia. Kedua orangtuanya lah makhluk yang paling mencintai dengan tulus anak-anaknya. Orangtua sejati

adalah mereka yang menginginkan kebahagiaan anak-anaknya lebih dari apapun di muka bumi. Dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita, tidak pernah melahirkan anak-anak kita bahkan tidak pernah diberi amanah oleh Allah SWT sesaatpun juga, Karena itu persekolahan bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan tulus dan ikhlash.

Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sebagai amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sebagai amanah yang akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak. Membangun “home education” bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.

Sayangnya banyak orangtua yang menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anakanak berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus. Obrolan tentang pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas-tugas sekolah yang dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yang anak-anak kita miliki. Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak-anak kita.

#Renungan Pendidikan #2

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia AqilBaligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yang singkat, masa yang cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak-anak dan keturunan yang sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam masa yang tiada berbatas. Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia siakan dengan mengirim mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqilbaligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yang ada dalam benak kita tentang amanah terindah dan kesempatan untuk kekal bahagia di akhirat nanti?Jika demikian, lalu apa yang kita akan jawab di hadapan Allah SWT tentang pendidikan mereka? Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa-doa anak-anak kita, padahal mereka dititipkan kepada pihak ketiga yang tidak dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan doanya dikabulkan? Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?

Bukankah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang seiman yang bertalian darah akan lebih diterima Allah SWT?

Setiap yang beriman kepada AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak yatim pun sebaiknya dalam dekapan keluarga yang utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak kandung yang jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya. Lihatlah wajah teduh anak-anak kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah2 ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yang setara dengan kita, lalu kita tidak punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yang sudah terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka.

Lalu apa yang kita jawab dihadapan Allah SWT atas karakter-karakter yang sudah terbentuk tadi? Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat? Ayah Bunda, mari kita didik anak-anak kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun Home Education bukanlah pilihan, namun kewajiban setiap orangtua yang beriman, itu tidak memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.  Pada galibnya anak-anak kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita dipanggil Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti – yang tanpa kehadiran kita – anak-anak kita akan mengenang kita.

Anak-anak kita memerlukan kenangan2 yang memunculkan kesan2 dan imaji2 yang baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh tentang masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa. Dan itu hanya diperoleh pada masa yang singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yang diberikan oleh orangtuanya dengan tulus dan ikhlash yang tak tergantikan oleh siapapun.

framework-pendidikan-berbasis-fitrah

   #Renungan Pendidikan #3

Sesungguhnya tidak ada seorangpun anak yang berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan nakal dan jahat. Jika sempat lihatlah wajah-wajah bengis mengerikan anak dan remaja yang tawuran, atau perhatikan wajah sayu dan tatapan kosong anak-anak depresi dan korban narkoba, atau jenguk

jiwa jiwa remaja galau melalui mata bingung dan frustasi mereka dibalik tawa dan canda yang tak bermakna.

Maka jujurlah apakah mereka mau ditakdirkan demikian? Maka jujurlah apakah Allah SWT menghendaki keburukan bagi hamba-hambaNya? Maka jujurlah, apakah itu dosa mereka sehingga mereka demikian?

Sesungguhnya mereka adalah korban kelalaian kita para orangtua, mereka korban obsesi dan kesembronoan yang merusak fitrah baik mereka. Ingatlah bahwa mereka dahulu adalah bayi2 mungil yang lucu, yang senyum, tawa dan tangisnya meluluhkan hati siapapun. Lalu bagaimana bisa di kemudian hari bayi-bayi ini menjadi beringas, nakal dan jahat?

Sesungguhnya setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Sesungguhnya juga bahwa Allah tidak akan merubah semua fitrah baik yang ada dalam diri mereka sampai lingkungan, sistem pendidikan, orangtua dan lain lain berbuat gegabah “sok tahu” merubahnya sehingga terluka, tersimpangkan, atau terpendam selama-lamanya.

Anak-anak kita bukanlah kertas putih yang bisa kita jejali dengan tulisan sebanyaknya dan semaunya, bukan! Anak-anak kita adalah mutiara terpendam yang mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan keunikan mutiara yang ditakdirkan Allah SWT untuk mereka memilikinya. Mutiara yang tidak perlu diasah, hanya perlu diletakkan kepada tempat yang sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna. Berbaik sangkalah kepada Allah SWT. Jangan gegabah menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dengan maksud agar semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yang tulus, dan diletakkan kepada tempat dan sudut yang tepat sehingga cahayanya berpendar pendar indah menebar manfaat rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa-doa kita tentang keturunan yang baik.

Maka, yakinlah bahwa mutiara akan bertambah indah bila berkumpul dengan mutiara. Mutiara akan tenggelam dalam lumpur hitam yang pekat. Yakinlah ruh-ruh yang baik akan merapat bershaf-shaf menuju kemuliaannya. Maka perbaikilah fitrah kita wahai orangtua, sucikanlah fitrah kita sebelum kita mensucikan fitrah anak-anak kita melalui pendidikan. Sesungguhnya apa yang keluar dari fitrah yang baik akan diterima oleh fitrah yang baik. Apa yang keluar dari hati yang bersih dan damai maka akan tiba di hamparan hijau hati yang bersih dan damai. Apa yang hanya dari mulut semata, maka akan berhenti di telinga saja.

Mari kita renungkan, siapakah di muka bumi makhluk yang paling ridha mensucikan diri demi anak kita? Saya yakin anda bisa jujur menjawabnya.

*( Bersambung)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>