Latar Belakang


Sekolah alam menekankan proses pembelajaran yang disampaikan secara active dan fun, karena secara lahiriah anak lebih suka berada dalam ruangan informal, terbuka dan bebas dibandingkan dengan suasana yang formal, tertutup dengan lingkungan terbatas. Dalam berkreasi di lingkungan sekolah yang terbuka dan bebas, anak dapat menikmati waktu sekolah mereka, sehingga pengemangan nilai kreatifitas dan kemampuan dirinya menjadi lebih efektif.

Di sekolah alam, anak didik untuk bebas bereksplorasi, bereksperimen dan berekspresi dalam berkembang menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak mulia dan siap menjad pemimpin adalah sekolah alternatif yang memberi ruang gerak yang luas kepada siswa untuk bereksplorasi mengkaji berbagai ilmu pengetahuan dengan pelibatan langsung dengan objek pembelajaran di alam. Sekolah alam lebih tepatnya memanfaatkan alam sebagai sarana tak terbatas bagi eksplorasi materi pelajaran yang ditekuni siswa.

Sekolah alam adalah sekolah impian yang menjadi kenyataan bagi mereka yang mengangankan dan menginginkan perubahan dalam dunia pendidikan secara menyeluruh yang pada akhirnya mengarah pada perbaikan mutu dan hasil akhir dari proses pendidikan itu sendiri. Di sekolah alam, anak-anak dibebaskan bereksplorasi, bereksperimen dan berekspresi tanpa dibatasi sekat-sekat diniding dan berbagai aturan, yang mengekang rasa ingin tahu mereka, yang membatasi interaksi mereka dengan kehidupan yang sebenarnya, yang membuat mereka berjarak dan tak akrab dengan alam lingkungan mereka.

Anak dibebaskan menjadi diri mereka, dan mengembangkan potensi dirinya untuk tumbuh menjadi manusia yang berkarakter, berakhlak mulia, berwawasan ilmu pengetahuan dan siap menjadi pemimpin di muka bumi (khalifatu fil ardh). Anak dibebaskan dari tekanan ‘mengejar’ nilai dan rangking, tapi didorong untuk menumbuhkan tradisi ilmiah. Prestasi tidak dilihat dalam perbandingan dengan anak lain, tapi dari upaya mereka memaksimalkan potensi diri dan menjadi lebih baik. Belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan, tidak membebani. Belajar jadi kebutuhan, bukan keharusan. Sekolah tidak menjadi penjara yang membosankan.

Di sekolah alam, guru dibebaskan berkreasi dalam mengajar. Kreatifitas guru tidak dibatasi oleh buku paket dan target nilai. Guru tak sekadar mengajar, tapi mendidik. Guru tak hanya menjadi panutan, tapi teman. Guru adalah fasilitator. Guru-guru yang beridealisme tinggi dan penuh dedikasi di sekolah ini membantu anak didik mengenali kelebihan dan kekurangannya dan menjadikan mereka tidak sekedar mandiri, tapi bias membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dikerjakan