Memaknai Arti Menyayangi


Beberapa pekan yang lalu. Sekolah disibukkan dengan pembicaraan mengenai hewan apa yang akan dipelihara di sekolah sebagai bahan pembelajaran bagi peserta didik. Tak terkecuali dengan kelas yang kubimbing. Kami mendapatkan tugas untuk beternak.

Bagi sebagian dari kami, beternak adalah hal yang sangat baru. Terlebih bagi anak-anak SD yang kubimbing dengan usia yang masih tergolong sangat belia. Usulan tentang beternak ini pun bermunculan. Banyak sekali ide-ide kreatif yang mengalir. Ada yang mengusulkan untuk beternak kelinci, ternak jangkrik, bahkan salah satu orang tua menyarankan; “ternak uang!”. Ah, Aku tau bahwa itu sekedar guyonan. Hehehe

Waktu untuk mempersiapkan hewan ternak hanya dua minggu lamanya, itu sudah termasuk dalam proses membuat kandang. Satu minggu telah berlalu, kami gunakan untuk menyelesaikan kandang. Ya, satu minggu lagi waktu yang tersisa.

Kandang sudah siap, tapi penghuni kandang belum juga ditemukan. Setelah mendapat beberapa pertimbangan, akhirnya kami memutuskan hewan apa yang akan dipelihara. Tentu saja ayam langsung menjadi pilihan pertama karena anak-anak sudah sangat terbiasa dengan hewan peliharaan yang satu ini. Rencana kami adalah beternak ayam kampung.

Tapi rasanya sangat sulit untuk menemukan ayam kampung dalam waktu yang sangat singkat di Kota kami. Jelas, ini sangat berbeda dengan kondisi masa kecilku, dimana masih banyak kutemukan ayam kampung bebas berkeliaran. Namun tidak untuk saat ini. Waktu yang tersisa tinggal 2 hari lagi. Ayam kampung tak kunjung kami temukan. Akhirnya, sepulang dari sekolah kuputuskan untuk segera mencari penjual ayam yang berada disekitar lokasi yang tak jauh dari Sekolah kami.

Tak jauh dari sekolah, di pojok gang kulihat ada dua ibu yang tengah bercerita. Awalnya aku hanya ingin bertanya, dimana penjual ayam kampung berada. Ternyata beliau yang aku tanyai adalah seorang penjual ayam itu sendiri. Wah… serasa di dalam sinetron, pas mencari penjual ayam, pas pula bertemu. Indah bukan buatan! Setelah sedikit tawar-menawar, aku memutuskan untuk membeli tiga ekor ayam.

Keesokan harinya, anak-anak didikku sangat senang melihat kandang mereka telah berisi ayam. Berebut mereka ingin memberi makan dan minum. Alangkah bahagianya mereka. Beramai-ramai mereka mengerumuni kandang. Menyaksikan dengan seksama. Di perlakukan bak raja dan ratu. Luar biasa!

Tapi di hari pertama, seekor ayam terlihat lemas, dan ternyata sorenya ayam tersebut mati. Aku melihat raut sedih menyelimuti anak-anak saat mendengar berita singkat itu. Ayam kedua yang sedang sakit segera dipotong. Tinggallah seekor ayam jantan, yang tak lama kemudian juga menyusul; mati!

Kandang kembali kosong seperti awal pembuatannya. Ah, rasanya tak kuasa membayangkan wajah anak-anak saat menerima kenyataan yang cukup pahit ini bagi mereka. Meskipun tentu saja ada hikmah dibalik semua itu.

Beberapa hari kemudian ada seekor kucing liar yang berada di sekitar Sekolah. Dengan polosnya, anak-anak memasukkan kucing tersebut kedalam kandang yang sempat kosong beberapa hari belakangan. Tanpa intruksi dari kami para Guru, mereka menyisihkan sebagian lauk makan siang mereka untuk kucing yang berada di dalam kandang. Kemudian mereka bergiliran memberinya minum, bahkan salah satu diantara mereka membawa kain sebagai alas tempat kucing beristirahat di dalam kandang.

Masya Allah… Aku terhenyak, betapa tulusnya hati anak-anak. Tanpa pandang bulu, mereka memperlakulan seekor hewan dengan sangat mulia. Meski kucing yang dipelihara tak seindah kucing Angora. Namun ketulusan hati mereka dalam memberi makan, minum, dan kalayakan kandang memberiku sebuah inspirasi yang luar biasa.

Mereka, murid-muridku yang kuanggap sebagai teman-teman kecilku mungkin belum tau makna menyanyangi. Tapi yang mereka lakukan justru mengajariku untuk memaknai; “bahwa menyayangi adalah memberi kepada yang membutuhkan”. Yang kucatat dari mereka lainnya, “bahwa untuk menyayangi tak selalu harus melihat rupa, namun hanya perlu untuk menyegerakan sebuah kebaikan,”

Terima kasih teman-teman kecilku. Bersamamu. Aku bertabur ilmu. Membuatku malu dengan ketulusanmu.

Penulis : Nyie Astuti, merupakan salah satu pendidik di Sekolah Alam Duri

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>